
Baca Selengkapnya...
Alamat Jl. Gatot Subroto Km. 4 Tunjungan Blora e-mail : smansa_tjg@yahoo.com
Recently, students are faced to large school activities. Besides do daily activities at school they also have to join at some extra activities that out from schooling time. The contra grows when at the same time they also get any home works from their teacher. There are some for points with the homework side, and some others against point about it.
Some students say that home works from their teachers is useful for them. It can help them to get more knowledge by the assignment. Moreover they say by doing the homework they can more understand about the lesson have just they got in the morning. Because usually the reason why the teacher gives them large home works in order they want to open study about the material once more time. By that ways students can be cleverer than ever.
To add that opinions some people also see that giving homework can increase their discipline character. They can manage their time as well as possible. Their study time can be controlled and other waste activities can be decreased.
In another hand, some students mostly complain about the homework from their teachers. They say that so difficult to them to do more than a activities at once. When they have to finish some extra activities, their time is lost by doing homework. Some of their activities have to be ignored, whereas their extra activities can be told more than repeating the lesson that have got and clear at school.
Aren’t lees some fact show many students absent because of sick. And by moreover observe they say sick cause of being tried. Their health lost by spending time that’s not balance. They have to finish many home works, do extra activities, till ignore sleep time or even weekends. It will be pity the students if have to burden by many home works while the studying at school too.
In spite of controversy of the needed of homework that can help some students be more high quality human. We also have to check the capacity of our brain that so limited to great fulltime planning. Be a Wiseman on defeat our time, brain and healthy as well as possible.
(by Yuliana P, XII A3)
Harus Ikut Pendidikan Profesi Guru
Jakarta, Kompas - Masyarakat yang berminat menjadi guru kebingungan karena belum tersosialisasinya ketentuan untuk menjadi guru. Calon guru memilih ikut program Akta IV, padahal syarat untuk menjadi guru nantinya harus memiliki sertifikat pendidik.
”Saya ikut Akta IV sejak Januari lalu,” kata Ati (31), peserta program Akta IV di Universitas Kristen Indonesia di Jakarta, Senin (9/3). Untuk mengikuti program Akta IV, kata Ati, dia dikenai biaya Rp 7 juta.
Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari Jambi Sainil Anwar mengatakan, program Akta IV di kampus ini masih dibuka karena tingginya permintaan masyarakat dan pemerintah daerah. Program ini diminati oleh sarjana nonkependidikan yang berminat untuk menjadi guru karena belum jelasnya pelaksanaan pendidikan profesi guru (PPG).
Pembantu Rektor I Universitas Terbuka (UT) Tian Belawati mengatakan, program Akta IV di UT ditutup sejak tahun 2007. Kampus ini hanya menyelesaikan mahasiswa yang masih tersisa paling lama tahun ini. ”Kami juga masih belum tahu sistem PPG yang hendak dijalankan pemerintah,” ujarnya.
Pembantu Rektor I Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Zainal Rafli mengatakan, UNJ tidak membuka lagi program Akta IV sejak tahun 2008. Program ini dinilai akan mubazir karena peraturan baru soal pengangkatan guru mengharuskan calon guru mengikuti pendidikan profesi guru.
Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, mengatakan, pengangkatan guru baru harus memenuhi syarat mengikuti PPG selama enam bulan bagi calon guru TK dan SD serta satu tahun untuk guru bidang studi di SMP dan SMA/SMK. Pemerintah hingga saat ini masih menyiapkan peraturan pelaksanaannya yang ditargetkan sudah bisa mulai dilaksanakan pada September 2009. (ELN)
http://www.sfeduresearch.org/content/view/377/65/lang,id/
Jakarta (Media Indonesia: 20/06/06) SAAT yang amat mendebarkan bagi siswa dan orang tua murid SLTA berakhir. Departemen Pendidikan Nasional mengumumkan berita gembira bahwa ujian nasional (UN) untuk siswa tingkat sekolah lanjutan atas menghasilkan angka spektakuler. Tahun ini angka rata-rata kelulusan untuk tingkat SLTA adalah 91,43%, meningkat dari tahun sebelumnya yang 80,76%. Artinya yang tidak lulus kurang dari 10%.
Angka kelulusan nasional di atas 90% seolah mengatakan mutu pendidikan Indonesia telah memiliki standar nasional. Atau dengan kata lain, disparitas mutu anak didik antara daerah tertinggal dan daerah maju, antara Jawa dan luar Jawa, tidak menjadi persoalan lagi.
Akan tetapi, persoalan sesungguhnya tidaklah demikian mudah. Dunia pendidikan masih menyimpan kerumitan krusial. Sektor itu belum menjadi sumber mutu kehidupan seperti yang diperlihatkan dalam angka-angka kelulusan. Sektor itu sesungguhnya belum lulus sebagai sumber mutu kehidupan nasional.
Pertanyaan yang paling menyakitkan adalah apa gunanya angka kelulusan itu bagi siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi? Lalu, bagi yang lulus dan tidak melanjutkan ke bangku kuliah, tetapi mencari pekerjaan, apakah begitu berarti angka-angka tersebut?
Sistem rekrutmen ke jenjang perguruan tinggi yang sekarang berlaku menafikan angka kelulusan. Mengapa? Karena siswa yang telah lulus ujian akhir nasional tidak memperoleh jaminan apa-apa untuk diterima di universitas atau akademi. Mereka harus diuji lagi oleh lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan tinggi.
Kalau ujian nasional SLTA begitu penting dan bermutu, seharusnya perguruan tinggi tidak lagi melakukan seleksi ulang. Yang dilakukan cuma memberi batas nilai terendah dari angka kelulusan untuk menjaga citra dan mutu universitas bersangkutan.
Misalnya, sebuah universitas menetapkan hanya menerima mahasiswa baru yang angka kelulusannya 8 (delapan) ke atas. Dengan demikian siswa-siswa yang lulus UN dengan angka 8 ke atas otomatis diterima di perguruan tersebut. Bagi siswa dengan angka kelulusan di bawah 8, mereka juga berhak masuk ke universitas yang mengakomodasi standar nilai seperti itu.
Namun, apa yang terjadi sekarang? Mereka yang sempat mengikuti ujian masuk universitas gelombang awal dan dinyatakan lulus ternyata tidak lulus UN. Di tengah semangat komersialisasi perguruan tinggi, bahkan perguruan tinggi negeri, lulusan SLTA baik dengan angka rendah maupun tinggi tidak ada bedanya lagi.
Yang mendapat angka kelulusan rendah, tetapi mampu membayar tinggi, diterima juga di bangku perguruan tinggi yang menerapkan standar mutu tinggi. Itu yang pada gilirannya merontokkan mutu perguruan tinggi.
Jangan ditanya lagi apa arti angka kelulusan bagi mereka yang mencari kerja. Tamatan SLTA dalam dunia kerja dianggap sebagai output yang tidak memiliki kompetensi apa-apa, kecuali pekerja kasar.
Dunia pendidikan sedang diingkari. Diingkari sesama institusi pendidikan, diingkari dunia kerja. Angka kelulusan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah terciptanya sebuah sistem pendidikan yang bermutu dari SD sampai universitas.
http://www.sfeduresearch.org/content/view/29/69/lang,id/